Amarah Seorang Ibu#
Karya: Nur Hikma (A1D1 11103)
Marah memang marah
Tak ada permainan
Cacianpun tak dibendung
Menghujami telingaku
Kala itu
Kesadaran belum kupupuk
Semua ucapanmu bagaikan angin berlalu sebab
Pikiran kanak-kanak masih berkuasa
Tapi kini,,
Setiap butir kata dari bibirmu
Bak mutiara yang akan selalu kujaga
Suaramu bagaikan pengobat rindu di kala kusepi
Setiap kutermenung
Kembali kuteringat
Peluru-peluru ucapanmu yang tak tertahan
Seperti angin menampar lamunanku
Menyadarkan aku
Setajam apapun kau bertutur
Kaki ini takkan beranjak dari landasannya
Karena aku tahu
Kelembutan tetap terpancar dari sinar matamu
2013
Ibu
Oleh: Nur Hikma
Tubuhmu kaku
Matamu kaku
Mulutmu membisu
Napasmu terhenti sudah
Aku tahu
Tubuhmu terbaring dan takkan berdiri mendekapku lagi
Matamu takkan terjaga lagi tuk menungguku pulang
Tapi, ini bukan tentang kematianmu
Bukan itu
Karena aku tahu
Semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya
Kematian adalah sesuatu yang pasti
Dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi
Aku sangat tahu itu
Tapi, yang membuatku tersentak sedemikian hebat
Kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri siapapun dengan sekejap saja
Tanah merah menjadi dukaku yang menjalar sekujur tubuh
Kini tentangmu kujadikan cerita sebelum tertidur
ku jadikan bayang kerinduan sebelum terlelap
Maafkanlah aku ibu
Hanyalah tangis dalam doa yang dapat kuberikan untukmu.
2013
Kenanganmu Ibu
Oleh: Nur Hikma
Ketika matahari telah berpamitan
Tak diundangpun
Malam akan hadir sertakan gelap tak terawang
Malam semakin jauh melangkah
Di sudut ruangan ini ku terdiam
Seiring hembusan angin
Berlorongkan jendela tak berkaca
Bertutupkan sehelai tirai kusam
Yang tak terbaca lagi warnanya
Benang-benang jahitannya
Mengundang genangan air di sudut mataku
Tinggallah sehelai tirai kusam yang kutatap
Aroma khasmu tak lagi bersemayam
Sejenak terlintas di benakku
Pesan terakhir yang kuterima darimu
Tak perlu ada lagi duka disini
Engkaulah yang akan mengakhirinya
Sertakan kepergianmu
2013
Mekar Tak Selamanya Indah
Oleh: Nur Hikma
Mekar bunga di pot segi empat
Di sudut taman pekarangan
Bunga mekar yang berbeda warna
Tumbuh bersama dari satu akar yang sama
Mekar bersama
Berbagi suka dan duka
Panas terik
Dingin menerpa pun takkan meruntuhkan
Kesetiaan pada satu akar
Suatu ketika
Mekar bunga di pot segi empat
Seakan terlihat tak saling menyapa
Sebab kumbang yang datang
Tak bisa singgah hanya pada satu bunga
Keindahan pun terlupakan
Gerangan kumbang tak dapat memilih
2013
Pagi yang Redup
Oleh: Nur Hikma
Pagi cerah datang menghampiri
Sinar mentari diam-diam mulai nampak di ufuk timur
Memancarkan sinarnya bak emas yang berkilauan
Dengan penuh kepercayaan
Sosok mentari tampak seutuhnya
Seakan ingin mengungkapkan dan menunjukkan pada dunia
Ialah yang paling berkuasa
Pagi cerah kicauan burung
Tanpa permisi, sinar mentari mulai menyusuri
Setiap lorong gelap di muka bumi
Seiring hembusan angin yang menebarkan aroma khas sejuk embun pagi
Pagi cerah yang selalu kusambut
Kini kurasa engkau berbeda
Sinar mentari yang dulu angkuh seakan lemah dan bersembunyi
Di balik tirai yang amat hitam pekat
Kini,
Dunia kupandang seakan beku di tengah derap
Kicauan burung yang dulu merdu kini meredup
Ya Tuhanku,
Adakah yang membuatmu tersinggung
Sehingga Engkau lampiaskan
Pada pagi cerah ini?
2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar